Tuesday, January 29, 2013

OPINI PUBLIK TERHADAP MASALAH BANJIR DI JAKARTA



OPINI PUBLIK TERHADAP MASALAH BANJIR DI JAKARTA
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas
Mata Kuliah Komunikasi Politik



Jurusan : Ilmu Pemerintahan

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS ISLAM “45”
BEKASI
 2012
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya kepada Allah SWT semata, Tuhan Rabb semesta alam yang telah melimpahkan rahmat dan karunianya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan tema “Opini Publik”. Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Komunikasi Politik. Selain itu juga untuk memberikan informasi atau gambaran umum mengenai Opini Publik.
Saya banyak berutang budi kepada mereka yang karya-karyanya saya muat dan saya kutip baik sebagian maupun seluruhnya, sedikit maupun banyak. Karenanya saya haturkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada mereka.
Saya berharap laporan ini dapat bermanfaat untuk kalangan akademis dan pembaca pada umumnya, walaupun di sana-sini masih banyak kekurangan dan kelemahannya. Kritik yang bersifat membangun saya nantikan demi perbaikan di masa yang akan datang.


Bekasi, Desember2012


Penulis














BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang Masalah
Sebagai  kota yang berada di daratan rendah, Jakarta tidak terlepas dari ancaman banjir yang sewaktu-waktu dapat menyerang. Menurut catatan sejarah Ibukota Jakarta telah dilanda banjir sejak tahun 1621. Salah satu bencana banjir terparah yang pernah terjadi di Batavia adalah banjir yang terjadi di bulan Februari 1918. Saat itu hampir sebagian besar wilayah Batavia terendam air. Daerah yang terparah saat itu adalah gunung Sahari, Kampung Tambora, Suteng, Kampung Klenteng akibat bendungan kali Grogol jebol.
Hingga kini banjir pun belum berhenti meyerang Jakarta. Apalagi ketika musim penghujan telah tiba. Oleh karena banjir yang terus menerus melanda sebagian wilayah di Jakarta kini kota Jakarta telah terkenal dengan Kota Banjir. Walau demikian warga Jakarta tidak berhenti mencoba menanggulangi banjir di Ibukota tercinta ini.
Sehubungan dengan cara untuk mencoba menanggulangi banjir tersebut, maka berbagai maslah penyebab banjir pun mulai muncul dari masalah sampah, curah hujan yang tinggi, peluapan air yang berlebihan, pecahnya bendungan sungai, serapan air yang buruk, hingga pemukiman liar dan pemukiman padat penduduk. Dan warga yang terkena banjir selalu mengambil strategi sendiri untuk menanggulangi banjir ketika banjir datang ke rumah mereka.
Dari pernyataan di atas, muncul berbagai opini masyarakat atau opini publk mengenai banjir yang terjadi di Jakarta. Opini publik adalah pengumpulan citra yang diciptakan oleh proses komunikasi. Gambaran tentang sesuatu akan menimbulkan banyak tafsir bagi para peserta komunikasi. Sesuatu akan berbentuk abstrak atau konkret dan selalu bermuka banyak atau berdimensi jamak karena adanya berbagai perbedaan penafsiran (persepsi) yang terjadi di antara peserta komunikasi. Pergeseran citra pada opini publik ini tergantung pada siapa saja yang terlibat dalam proses komunikasi. Setiap kali jaringan komunikasi berubah, opini publik juga berubah. Perubahan opini publik merupakan “dinamika komunikasi”, sedangkan substansi opini publik tidak berubah. Substansi tidak berubah karena ketika proses pembentukan opini publik berlangsung, pengalaman dari peserta komunikasi itu telah terjadi.
Frazier Moore menjelaskan Opini public adalah ungkapan keyakinan yang menjadi pegangan bersama diantara para anggota sebuah kelompok atau public, mengenai suatu masalah controversial yang menyangkut kepentingan umum.
Kruger Reckless didalam bukunya Social Psychology mengemukakan, bahwa opini publik adalah suatu pendapat hasil pertimbangan seseorang tentang sesuatu hal yang telah diterima sebagai fikiran publik.

B.            Perumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut maka rumusan masalahnya adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan banjir?
2.       Apa yang menjadi faktor dari banjir serta dampak yang ditimbulkan?
3.        Bagaimana cara mengatasi banjir di ibukota?
C.      Tujuan Penulisan
1.   Mengetahui mengenai pengertian banjir.
2.   Mengetahui faktor dan dampak dari banjir yang terjadi di ibukota
3.   Mengetahui cara mengatasi banjir di ibukota





















BAB II
PEMBAHASAN

A.            Pengertian Banjir
Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.
Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.
Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.
Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:
  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.
Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.
Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.
Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.
Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS. Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

B.            Faktor dan Dampak yang ditimbulkan oleh banjir
Di tinjau dari letak geografis, kondisi topografi, iklim, faktor demografi, dan kondisi sosial masyarakat, maka kemungkinan terjadinya banjir di Indonesia khususnya Jakarta cukup besar. Banjir dapat setiap saat terjadi dan sulit di perkirakaan intesitasnya, tempat, waktu baik pada daerah yang sudah ditangani dan belum sempat di tangani.
Peristiwa banjir tidak akan menjadi masalah sejauh banjir tidak menimbulkan gangguan atau kerugian yang berart bagi kepentingan manusia. Fenoma banjir disebabkan oleh tiga faktor yaitu kondisi alam, peristiwa alam, dan kegiatan manusia.
1. Faktor-faktor kondisi alam yang dapat menyebabkan terjadinya banjir adalah kondisi wilayah, misalnya : letak geografis suatu wilayah, kondisi topografi, dan geometri sungai seperti kemiringan dasar sungai, meandering, penciutan ruas sungai, sedimentasi, pembendungan alami pada suatu ruas sungai.
2. Peristiwa alam yang bersifat dinamis yang dapat menjadi penyebab banjir seperti curah hujan yang tinggi, pecahnya bendungan sungai, peluapan air yang berlebihan, pengendapan sendimen / pasir, pembendungan air sungai karena terdapat tanah longsor , pemanasan global yang mengakibatkan permukaan air laut tinggi.
3. Faktor kegiatan manusia yang dapat menyebabkan banjir adalah adanya pemukiman liar di daerah bantaran sungai, penggunaan alih fungsi resapan air untuk pemukiman, tata kota yang kurang baik, buangan sampah yang sembarangan tempat, dan pemukiman padat penduduk.
Selain dari faktor penyebab banjir, berikut ini dampak yang ditimbulkan dari banjir adalah sebagai berikut:
1.      Merugikan Secara Umum
Banjir yang terjadi  selalu menimbulkan kerugian  bagi mereka yang terkena banjir baik secara langsung maupun tidak langsung yang dikenal sebagai dampak banjir. Dampak banjir  akan dialami langsung oleh mereka yang rumah atau lingkungannya terkena air banjir. Jika banjir berlangsung lama akan sangat merugikan karena aktivitas akan banyak terganggu.
Segala aktivitas tidak nyaman dan lingkungan menjadi kotor yang berdampak kurangnya sarana air bersih dan berbagai penyakit mudah sekali menjangkiti warga yang terserang banjir.
2.      Penyakit Yang Timbul Sebagai Dampak Banjir
Dampak banjir yang terjadi sering kali menganggu kesehatan lingkungan dan kesehatan warga. Lingkungan tidak sehat karena segala sampah dan kotoran yang hanyut seringkali mencemari lingkungan . Sampah-sampah terbawa air dan membusuk mengakibatkan penyakit gatal-gatal di kulit, dan lalat banyak beterbangan karena sampah yang membusuk sehingga sakit perut juga banyak terjadi. Sumber air bersih tercemar sehingga mereka yang terkena banjir kesulitan air bersih dan mengkonsumsinya karena darurat, sebagai penyebab diare.
          3.   Mematikan Usaha
Dampak banjir memang luar biasa luas.Rumah bisa rusak gara-gara terendam banjir. Barang-barang perabotan rumah tangga jika tidak segera diselamatkan bisa hanyut dan rusak pula. Yang lebih parah jika penduduk yang memiliki usaha rumahan bisa terganggu aktivitas produksinya sehingga mengakibatkan kerugian. Kerugian akibat tidak bisa produksi berdampak pada karyawan yang bergantung nasib pada usaha tersebut. Kerugian tidak berjalannya produksi bisa kehilangan pelanggan, kemacetan modal serta kerusakan alat gara-gara banjir. Jika terus menerus situasi terjadi demikian mengakibatkan macetnya ekonomi kerakyatan yang kemudian berdampak pada semakin meningkatnya masalah sosial di lingkungan masyarakat yang sering di landa banjir.

C.           Cara Mengatasi Banjir Di Ibukota
Bila ingin mencari cara menanggulangi banjir, yang harus kita lihat terlebih dahulu adalah mengapa banjir bisa datang. Banjir bisa terjadi sebenarnya karena ulah manusia sendiri. Lihat saja, di kota-kota besar, sungai yang sebenarnya berfungsi untuk menampung air disalahgunakan untuk menampung sampah. Di sekitar sungai tersebut, bahkan, dijadikan permukiman.
Kondisi tersebut diperparah dengan kurangnya pepohonan yang berfungsi sebagai jantung kota. Bisa kita hitung sendiri, kira-kira berapakah perbandingan antara hutan kota dengan gedung-gedung bertingkat. Mana yang lebih banyak. Ibarat rumah, kota-kota yang rawan banjir tersebut adalah rumah yang tidak memiliki atap dan jendela. Saat badai menyerang, otomatis tidak ada perlindungan sama sekali.
Selain itu, cara menanggulangi banjir ialah sebagai berikut:
1.      Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya. Sungai dan selokan adalah tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi tempat sampah.
2.      Larangan membuat rumah di dekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di dekat sungai adalah para pendatang yang datang ke kota besar hanya dengan modal nekat. Akibatnya, keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan perekonomian. Malah sebaliknya, merusak lingkungan. Itu sebabnya, pemerintah seharusnya tegas, melarang membuat rumah di dekat sungai dan melarang orang-orang tanpa tujuan tidak jelas datang ke kota dalam jangka waktu lama (untuk menetap).
3.      Menanam pohon dan pohon-pohon yang tersisa tidak ditebangi lagi. Pohon adalah salah satu penopang kehidupan di suatu kota. Bayangkan, bila sebuah kota tidak memiliki pohon sama sekali. Apa yang akan terjadi? Pohon selain sebagai penetralisasi pencemaran udara di siang hari, sebagai pengikat air di saat hujan melalui akar-akarnya. Bila sudah tidak ada lagi pohon, bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila hujan tiba (http://www.anneahira.com/cara-menanggulangi-banjir.htm).
Cara menanggulangi banjir tersebut bisa dilakukan saat ini juga. Bila tidak sekarang, kapan lagi? Kita semua wajib memikirkan cara menanggulangi banjir. Bagaimanapun, hal itu adalah tanggung jawab bersama. Mari kita lakukan dari sekarang.


BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan kesluruhan, khususnya pada daerah Jakarta Selatan maka kesimpulan yang dapat ditarik adalah sebagai berikut :
1. Daerah  Jakarta Selatan ini terjadi banjir disebabkan oleh pemukiman padat penduduk, saluran air yang diperkecil, alih fungsi lahan, tidak ada resapan air, dan pembuangan sampah yang liar.
2. Karena daerah ini sering di datangi banjir, maka warga yang menjadi korban banjir yang selalu terkena dampak nya, seperti :
a. Ancaman wabah penyakit
b. Aktivitas masyarak terganggu
c. Ancaman penyakit diare
d. Penyakit yang disebabkan oleh nyamuk

3. Cara mengatasi banjir di daerah Jakarta selatan adalah
a. Membuat daerah resapan air yang lebih luas lagi, dan jangan memperkecil saluran air yang sudah ada.
b. Mengkaji ulang tata kota daerah Kebagusan, untuk mengetahui titik-titik daerah banjir.
c. Membuat tanggul baik yang permanent atau non permanent dirumah masing-masing yang selalu terkena banjir.
d. Dan di himbaukan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah pada tempatnya.
e. Jangan mendirikan bangunan di lahan yang memang rawan banjir.
B.      Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis mencoba memberikan masukan yang mungkin dapat berguna bagi penanganan banjir di Daerah Jakarta Selatan. Sebaiknya seluruh warga membuat musyawarah dalam penanganganan maslah banjir seperti tindakan kesiapsiagaan warga terhadap banjir datang, tindakan yang seharusnya dilakukan di setipa rumah dalam mengatasi banjir datang, penyuluhan tentang kegiatan yang dapat mengurangi resiko banjir, tindakan saat terjadi banjir dan setelah banjir kepada seluruh warga Kebagusan Jakarta Selatan.

LAMPIRAN
A.    Study Kasus

1.      What They Say ..
Apa sih yang orang bilang tentang Jakarta?
"Jakarta terapung, Jakarta punya monorail. OK!"
Mungkin itu yang kita tau dari iklan di stasiun televisi.
Tapi pernah kepikiran nggak sih,
apa yang dipikirkan orang tentang Jakarta?
Nah.. di bawah ini beberapa pendapat dari warga Jakarta
yang kita dapat dengan wawancara langsung.
1.        Tukang kunci
Pendapat : saya ini sebenarnya bukan warga Jakarta. Saya Cuma pendatang dari jawa barat. Tapi saya gak nyesel banget dating ke Jakarta karena bisa jadi tukang jualan. Lumayankan dapat penghasilan. Mengenai banjir, itu terjadi di lingkungan rumah saya. Biasanya kalu hujan.
Harapan : Pengen sukses, dapat uang banyak. Sama pengen gak ada pengguran lagi deh.
2.             Ibu rumah tangga
Pendapat : Jakarta itu kotor, makanya sering terjadi banjir, warganya suka buang sampah sembarangan dan tidak punya kesadaran untuk menja kebersihan.
3.             Penjual buku
Pendapat : rumah saya kebanjiran. Selain itu, semenjak pemerintahan SBY, cari uang dan usaha jadi sulit , nggak kayak dulu. Harapan : perekonomian lancar, paling tidak ada perubahan, harga bisa murah lagi.
4.              Wulan (pelajar)
Pendapat : macet, banjir, copet, nggak aman, orang-orangnya jorok, terminalnya bau pesing.
Harapan : Pemerintah tambahin jalur hijau
5.             Penjaga warung
Pendapat : banjir, siklus banjir lima tahun ,padat penduduk,banyak pengangguran,sulit cari pekerjaan.
Harapan : bisa berusaha dan berwiraswasta

2.      Opini Masyarakat Terhadap Banjir Di Kota Jakarta
Tanpa bermaksud menjelekan siapapun atau membela siapapun, saya ingin mengungkapkan sedikit rasa tidak setuju dengan sebuah judul yang dipasang TV one tadi sore / siang, bertuliskan “Jokowi Mana Janjimu”. Kebetulan berita yang ditayangkan sedang mengekspose banjir di Jakarta yang terus mengancam, dan mulai menggenangi wilayah Jakarta. Walaupun saya sendiri tidak tinggal di Jakarta, dan cuma pernah sekali pergi kesana, akan tetapi semua orang pasti sependapat dengan saya, kalau masalah banjir di Jakarta adalah masalah yang kompleks, masalah yang memang dari awal pembangunan kota, tata kotanya sudah salah dari awal. Jadi membenahinya tidaklah semudah membalik  telapak tangan, atau semudah menanda tangani sebuah berkas.
Dan juga tanpa kesadaran orang Jakarta sendiri tentang bahaya banjir juga kepedulian mereka terhadap lingkungan, usaha ini akan semakin sulit. Sedangkan saat banjir datang, semua orang seakan langsung menunjuk hidung Jokowi, sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap masalah ini. Jokowi itu kan bukan jin botol yang dengan sekali tepukan maka semua masalah akan hilang, dengan sekali tiupan satu kota akan hilang.
Bagaimanapun Jokowi baru dilantik Oktober lalu, dan menuntut janjinya sekarang ini adalah sebuah tindakan yang membabi buta, apalagi menyangkut masalah banjir di Jakarta yang notabene adalah masalah yang semua pemimpin Jakarta tidak pernah tuntas mengatasinya, karena memang ini masalah yang kompleks. Perlu partisipasi semua kalangan bahkan hanya untuk mengurangi dampak banjir ini, apalagi untuk menghilangkan, mengatasi secara total.

3.      REKONSTRUKSI POLITIK

PBNU Minta Jokowi Tingkatkan Kinerja Atasi Banjir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bencana banjir kembali menyapa sejumlah titik di Jakarta, seiring datangnya musim hujan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, meminta Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo (Jokowi), meningkatkan kinerjanya dalam mengatasi bencana banjir. "Pak Jokowi sudah bagus karena langsung tanggap dan segera turun ke lokasi. Tapi tetap harus ditingkatkan lagi kinerjanya agar tidak ada masyarakat Jakarta yang mengeluh karena banjir," kata Kiai Said sesaat sebelum menjadi pembicara dalam pengajian bertema "Aktualisasi Nilai-nilai Hijrah Nabi Muhammad SAW" di Balai Agung DKI Jakarta, Rabu (21/11).
Dalam kesempatan tersebut Kiai Said sempat bertemu empat mata dengan Jokowi untuk menyampaikan masukan-masukannya, dalam upaya perbaikan Jakarta ke arah yang lebih baik. "Pak Jokowi mengeluhkan soal kali Ciliwung yang seharusnya jalan air, tapi kenyataannya menjadi tempat tinggal manusia. Saya jawab Anda harus bisa tegas, tapi tetap mengedepankan kesantunan," tambah Kiai Said. Sementara dalam pengajian yang digelar dalam rangka peringatan 1 Muharam 1434 H, Kiai Said menyoroti pentingnya aparatur pemerintahan yang memiliki ilmu secara mumpuni. Meski demikian keilmuan tersebut juga harus diimbangi dengan iman dan taqwa. "Berilmu penting, tapi bermoral, yaitu mengimbanginya d1engan iman dan taqwa yang kuat juga tak kalah penting. Orang bodoh yang dicuri mungkin hanya sebatas sendal, tapi orang berilmu yang tidak beriman bisa saja mencuri pabrik sendalnya," tegas Kiai Said di hadapan sekitar 600 PNS di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Lebih lanjut Kiai Said mengajak aparatur pemerintahan di DKI Jakarta untuk memaknai hijrah sebagai rancangan strategi untuk melanjutkan perjuangan dakwah Islam. Hijrah adalah langkah strategis untuk membangun kekuatan baru, tidak hanya fisik namun juga psikologis.










DAFTAR PUSTAKA
http://wahyuancol.wordpress.com/2009/03/23/banjir-1-pengertian-penyebab/ di kases tgl 11 Januari 2011 
http://www.anneahira.com/dampak-banjir.htm/ diakses tgl 13 Januari 2011
http://dwiiastuti.blogspot.com/2010/03/makalah-penyebab-banjir-di-daerah.html/ diakses tgl 10 Januari 2011


No comments:

Post a Comment